Investasi atau Membayar Hutang

Pilihan melakukan investasi atau membayar hutang




Investor menghadapi dilemma ketika memiliki cash dalam jumlah yang berlebih dimana keputusannya apakah mengurangi hutang atau menginvestasikan uang tersebut untuk memperoleh hasil yang lebih banyak?. Jika anda membayar hutang terlalu banyak dan mengurangi leverage anda mungkin tidak akan menghasilkan asset yang cukup ketika pension nanti. Jika anda terlalu agresif anda mungkin saja akan kehilangan semua asset yang anda miliki. Untuk memutuskan apakah mengurangi hutang atau menginvestasikan kelebihan uang itu, anda harus memperhatikan pilihan investasi yang ada, toleransi risiko dan situasi cash flow. 

Pilihan Investasi 

Dari sudut pandang angka, keputusan anda haruslah berdasarkan biaya setelah pajak peminjaman versus tingkat pengembalian setelah pajak dalam investasi. Misalnya, jika pinjaman anda memiliki suku bunga yang rendah dan anda berinvestasi di sekuritas yang lebih berisiko, seperti saham dengan kapitalisasi pasar yang kecil, maka investasi akan menjadi pilihan yang lebih baik. Jika anda seorang enterpreuner, anda akan lebih memiliih investasi di bisnis anda dibandingkan mengurangi hutang. Di pihak lain, jika anda mendekati masa pension dan profil investasi anda tergolong konservatif maka membayar hutang lah pilihan anda. 


Profil Risiko
Saat menentukan risiko, perhatikan hal-hal ini :

  • Usia anda
  • Pendapatan
  • Kemampuan dalam memperoleh penghasilan
  • Skala waktu
  • Kriteria lain yang merupakan ciri khas anda

Misalnya, jika anda masih muda dan memiliki diposable income yang tinggi yang berhubungan dengan gaya hidup anda, maka anda mungkin memiliki toleransi risiko yang tinggi dan dapat memilih untuk berinvestasi lebih agresif dibandingkan membayar hutang. Makin lama time horizon yang anda miliki hingga anda berhenti bekerja, makin besar potensi tingkat pengembalian yang anda bisa nikmati dengan cara berinvestasi dibandingkan dengan mengurangi hutang, karena ekuitas atau saham secara historical menghasilkan retun hingga lebih dari 10% per tahun.

Komponen kedua dari profil risiko anda adalah kemauan anda dalam mengasumsikan risiko. Jika anda tergolong investor agresif, anda mungkin ingin menginvestasikan kelebihan kas dibandingkan mengurangi utang anda. Jika anda tergolong risk averse maka anda akan lebih memilih mengurangi utang dibandingkan menginvestasikannya kembali.

Cash dan Hutang 

Penasehat keuangan seringkali memberikan saran kepada seorang karyawan untuk sedikitnya memiliki dana darurat sebesar 6 bulan pengeluaran bulanan dan debt to income ratio yang tidak boleh lebih dari 25 – 33% dari penghasilan bulanan. Sebelum anda memulai investasi atau mengurangi hutang, ada baiknya anda memenuhi ketentuan ini terlebih dahulu sehingga anda siap dalam menghadapi berbagai macam risiko yang mungkin saja terjadi. 

Selanjutnya, lunasi seluruh tagihan hutang dari kartu kredit anda (jika ada) karena bunga yang dikenakan oleh kartu kredit sangatlah mahal. Oleh karena itu jika debt to income ratio anda tergolong tinggi, maka fokuslah untuk mengurangi hutang terlebih dahulu dibandingkan berinvestasi. 

Mengetahui apakah harus mengurangi hutang atau berinvestasi tergantung oleh tidak hanya lingkungan ekonomi anda namun situasi keuangan pribadi. Intinya adalah menentukan tujuan keuangan yang masuk akal, tetap memiliki sudut pandang dan mengevaluasi pilihan investasi anda, profil risiko dan cash flow.

Komentar

  1. Article yg bgs pak. Kadang kita terlalu fokus di laba kita lupa atas resiko. Itulah kadang memang sblm investasi ada baiknya kita timbang dlu lwt pengetahuan dan pikiran yg matang.

    Kebetukan kmrn ada tmn yg post le saya article ini namun tanpa source, boleh ya sy share disini:

    Hutang Pangkal Kaya

    Hampir mayoritas orang Indonesia sangat anti akan hutang. Denger hutang aja dah gemeteran. Gimana kalo beneran berhutang? Bisa-bisa nggak tidur-tidur. Kepikiran beratnya untuk membayar. Kepikiran rasa takut kalo tidak bisa membayar.

    Yah, emang budaya kita begitu sih. Hutang dipandang sebagai hal yang memalukan. Hal yang selagi bisa, harus dihindari. Hutang adalah solusi terakhir ketika tidak ada solusi lainnya. Setidaknya begitulah yang Sekolah Saham dapatkan dari didikan lingkungan dari mulai kecil. Berhutang itu tidak baik. Titik.

    Namun ada benarnya juga jika dipikir-pikir. Setidaknya kita jadi tidak bakal pernah terlilit utang. Gimana mau terlilit toh berhutang aja takut bukan? Jadinya tentu sangat aman dari kasus dikejar-kejar para pemberi pinjaman. Aman sentosa deh pokoknya.

    Namun, jika ditilik lebih dalam ada ruginya juga. Kita jadi takut untuk berhutang sekalipun benar-benar butuh. Misalnya jadi modal usaha. Kita akan sangat menghindari untuk berhutang. Akibatnya usaha kita sangat sulit berakselerasi tumbuh lebih cepat. Pertumbuhannya hanya semenjana. Atau malah akhirnya kita bangkrut tergilas saingan yang berani berhutang.

    Nah, dapat dilihat betapa besar peluang kerugian karena takut berhutang ini bukan? Jadi bagaimana donk? Habis takut terlilit hutang sih. Lagian hidup jadi tidak nyaman dengan adanya hutang. Nggak apa-apa deh nggak maju asal tidak punya hutang. Alasan ini mungkin langsung berhamburan.

    Ketakutan untuk berhutang ini memang sudah mengakar kuat dalam diri. Mau gimana lagi, ya nggak? Ya nggaklah. Kita harus dapat menyusun ulang mindset takut berhutang ini agar jangan merugikan.

    Solusinya adalah kita harus memahami bahwa hutang itu (seperti halnya segala sesuatu di dunia ini) tidak mutlak jelek dan tidak mutlak baik. Tergantung bagaimana kita menggunakannya dan apa tujuan kita. Ini yang harus kita dalami.

    Kita harus dapat memisahkan mana berhutang baik dan mana berhutang jelek. Untungnya cukup mudah membedakannya. Cukup kategorikan hutang sebagai hutang konsumtif atau hutang produktif.

    Hutang konsumtif-lah yang harus kita hindari. Kalo utang produktif, ya harus kita kejar malah.

    Hutang konsumtif dalam hal ini adalah  berhutang untuk hal-hal yang tidak membantu untuk mendapatkan uang lebih banyak lagi. Misalnya membeli jam mewah, dsb.

    Hutang produktif dalam hal ini adalah berhutang untuk hal-hal yang akan sangat membantu untuk mendapatkan uang lebih banyak lagi. Misalnya membeli bahan baku usaha, dsb.

    Nah, jika kita dapat menerapkan hanya ber-hutang produktif, maka tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari berhutang. Malah dianjurkan untuk terus berhutang. Toh, produktif untuk menghasilkan uang lebih banyak lagi. Hutang memang pangkal kaya dalam hal ini

    BalasHapus

Posting Komentar