Filled Under:
,

Nilai Pasar atau Nilai Buku



Memahami perbedaan antara nilai buu dan nilai pasar merupakan salah satu hal yang mendasar namun penting ketika melakukan analisis terhadap suatu perusahaan yang akan dipilih dalam melakukan investasi saham. Saat investor menginvestasikan uang nya pada suatu saham tentu saja investor tersebut ingin mengetahui berapakah harga wajar saham perusahaan tersebut. Baca juga artikel : Analisis Fundamental Saham

Nilai buku secara literasi artinya nilai dari suatu bisnis berdasarkan “buku” atau laporan keuangannya. Dalam hal ini, nilai buku dikalkulasikan dari neraca yang merupakan selisih antara total aset dan total liabilitas. Perlu dicatat juga bahwa ada istilah ekuitas dari pemegang saham. Misalnya, perusahaan ABC memiliki total aset sebanyak Rp 100 Milyar dan total liabilitas sebesar Rp 80 Milyar, maka nilai buku dari perusahaan ABC adalah sebesar Rp 20 Milyar. Dalam gambaran yang lebih luas, ini berarti jika perusahaan ABC dijual maka nilai net worth dari bisnisnya sebesar Rp 20 Milyar.

Nilai pasar merupakan nilai perusahaan berdasarkan pasar modal. Nilai pasar dihitung dengan cara mengalikan jumlah lembar saham perusahaan dengan harga pasar saham tersebut saat ini. Jika perusahaan ABC memiliki 1 juta lembar saham dan harga per lembar saham saat ini adalah Rp 50 maka nilai pasar perusahaan tersebut adalah Rp 50 Juta. Nilai pasar merupakan angka yang sering disebutkan oleh para analis, koran bisnis dan investor sering mereferensikan saat menyebut nilai dari suatu perusahaan. 

 



Implikasinya
Nilai buku secara sederhana mengimplikasikan nilai dari suatu perusahaan berdasarkan laporan keuangannya atau nilai secara akuntansi. Apakah nilai buku merupakan penilaian yang akurat dalam menilai suatu perusahaan ditentukan oleh investor pasar modal itu sendiri yang memutuskan buy atau sell. Pada kondisi sebenarnya, anda akan menemukan nilai buku dan nilai pasar yang berbeda sepanjang waktu. Perbedaan antara nilai buku dan nilai pasar tergantung dari berbagai macam faktor seperti industri perusahaan tersebut, kewajaran dalam hal aset dan liabilitas suatu perusahaan, dan atribut spesifik lainnya. Terdapat 3 generalisasi tentang hubungan antara nilai buku dan nilai pasar :

  1. Nilai Buku lebih besar dibandingkan dengan nilai pasar : Pasar modal “menghargai” suatu perusahaan lebih rendah dibandingkan dengan nilai bersihnya. Apabila hal ini terjadi, biasanya disebabkan oleh pasar yang kehilangan kepercayaan terhadap kemampuan yang dimiliki oleh perusahaan tersebut dalam menghasilkan profit dan cash flow . Dengan kata lain, pasar tidak mempercayai bahwa perusahaan ini senilai dengan nilai bukunya. Value investor  sering mencari tipikal perusahaan seperti ini dengan berharap bahwa pasar telah salah dalam melakukan penilaian. Terdapat banyak saham yang nilai bukunya lebih besar dibandingkan dengan nilai pasarnya di Bursa Efek Indonesia. Salah satunya adalah LPCK (Lippo Cikarang) dan BNLI (Bank Permata).  
  2. Nilai pasar lebih besar dibandingkan dengan nilai buku. Pasar menghargai suatu perusahaan lebih besar dibandingkan dengan nilai bukunya karena kemampuan dalam menghasilkan laba dari aset yang dimiliki oleh perusahaan tersebut. Hampir semua perusahaan yang secara konsisten menghasilkan laba memiliki nilai pasar yang lebih besar dibandingkan nilai buku
  3. Nilai buku sama dengan nilai pasar : Pasar tidak melihat adanya alasan lain untuk mempercayai bahwa aset perusahaan lebih baik atau lebih buruk dari apa yang terlihat di neraca.
Penting memahami bahwa pada sepanjang hari, nilai pasar suatu perusahaan akan berfluktuasi terhadap nilai bukunya. Hal ini biasa diukur dengan nilai Price to Book Value atau PBV. Baca juga artikel : NilaiBuku sebagai Pengukur Valuasi Suatu Perusahaan

Bagi investor yang tergolong value investor , suatu perusahaan yang diperdagangkan pada rasio PBV 0.5 misalnya menunjukkan bahwa pasar menghargai Rp 0.5 dari aset seharga RP 1.  
Kapan Nilai itu Berguna
Untuk menentukan bagaimana nilai buku berhubungan dengan nilai pasar, lihat pada laba yang dihasilkan dari aset perusahaan. Perusahaan yang menghasilkan laba yang tergolong tinggi secara relatif dibandingkan asetnya akan menghasilkan nilai pasar yang jauh lebih besar dibandingkan nilai bukunya. Hal ini disebut dengan Return on Aset atau ROA. Contoh di Amerika Serikat misalnya adalah perusahaan Coca Cola yang menghasilan ROA di kisaran 7 – 8 %. Hal ini berarti satu dollar aset yang dimiliki menghasilkan 7 hingga 8 sen profit. Karena aset Coca Cola menghasilkan laba yang tergolong tinggi, asetnya akan dinilai lebih besar di pasar modal. Hal ini menunjukkan kasus seperti Coca Cola , nilai buku tidaklah terlalu mutlak dijadikan patokan dalam menilai murah atau tidaknya suatu perusahaan.

Dapat disimpulkan bahwa sama dengan berbagai metode pengukuran nilai lainnya, nilai buku memiliki kegunaan. Memahami kelebihan dan keterbatasan dari nilai buku akan berguna ketika menetapkan apakah nilai buku tersebut dapat digunakan dalam menganalisis suatu perusahaan. 

Baca juga artikel lainnya : 





0 komentar:

Posting Komentar