Penjelasan tentang Mengapa Perusahaan menjadi Go Public


Masih banyak pertanyaan yang biasanya ditanyakan ketika seseorang mulai ingin belajar tentang saham, salah satunya adalah buat apa suatu perusahaan tersebut go publik? apa untungnya dan bagaimana cara menilainya secara sederhana?. Berikut adalah artikel yang dikutip dari ebook Kedai Kopi dan Bank Permata oleh Wellson Lo, pendiri website Stockbit, yang sudah mendapatkan ijin untuk ditampilkan di website ini. Untuk dapat mendownload ebook tersebut secara lengkap dapat melalui link ini.

Investasi, dengan membeli saham perusahaan, tidak berbeda dengan saat kita urunan dengan teman untuk membuka kedai kopi. Jika perlu dana Rp 1 Juta untuk mendirikan sebuah kedai kopi, sementara Anda hanya memiliki dana sebesar Rp 100 ribu, Anda bisa mengajak teman lain untuk urunan, sehingga dana yang diperlukan sebesar Rp 1 Juta itu dapat terkumpul. Dalam terminologi keuangan, dana terkumpul yang disetorkan kedalam rekening perusahaan, sebesar Rp 1 Juta itu, merupakan Modal perusahaan atau Equity. Modal ini, karena disetorkan oleh sejumlah orang, lazimnya dipecah menjadi sejumlah (lembar) saham. Untuk contoh, modal Rp 1 Juta itu bisa dipecah menjadi 2,000 lembar saham. Dengan demikian, maka setiap lembar saham mempunyai nilai Rp 500 (Rp 1 Juta dibagi 2,000 lembar). Di dalam terminologi keuangan, nilai Rp 500 inilah yang disebut dengan nilai nominal. Apabila modal Rp 1 Juta di atas dipecah menjadi 10,000 lembar dan bukan 2,000 lembar, maka nilai nominal itu menjadi Rp 100 per-lembar (Rp 1 Juta dibagi 10,000 lembar), dan demikian seterusnya. Dalam contoh kasus kedai kopi ini, para pendiri sepakat untuk membagi modal menjadi 2,000 lembar @ Rp 500. Baca juga artikel : Mengapa harus berinvestasi di saham.


Setelah modal sebesar Rp 1 Juta terkumpul lengkap, maka dibukalah oulet pertama. Alhamdulillah, kegiatan usaha kedai kopi ini ternyata berjalan bagus. Kedai kopi bernama Skorbak ini (kopi dan martabak merupakan menu andalannya) ternyata banyak disukai orang. Tahun pertama, penjualan Skorbak mencapai Rp 2,000,000. Nilai penjualan itu setelah dikurangi semua biaya, Rp 1,850,000, menghasilkan laba Rp 150 Ribu. Laba sebesar Rp 150,000 ini jika dibandingkan dengan modal (Rp 1 Juta) menghasilkan angka 15%. Angka sebesar 15% ini didalam terminologi investasi, disebut Return On Equity, atau sering disingkat ROE. ROE (dinyatakan dalam persentase), membandingkan besaran angka keuntungan yang diperoleh perusahaan dengan modal yang dimiliki perusahaan. Semakin tinggi ROE, semakin baik kinerja perusahaan.

Baik tidaknya ROE ini bisa Anda bandingkan dengan hasil alternatif investasi lainnya. Jika Anda memiliki dana Rp 1 Juta, selain Anda bisa mendirikan Skorbak, tentu banyak juga alternatif bisnis lainnya yang bisa Anda pilih. Bisa juga Anda menyimpannya sebagai deposito di Bank. Apabila didepositokan di Bank, maka Anda akan mendapatkan imbalan bunga deposito, yang saat ini berkisar 6%. Oleh karena itu, bagi para deposan, ROE tersebut tiada lain adalah tingkat suku bunga deposito yang mereka terima dari Bank. Hasil yang Anda terima dari modal yang ditanamkan, itulah ROE.

Dengan catatan di atas, kita bisa berkenalan dengan Prinsip Investasi #1: “Jika Anda harus memilih perusahaan tempat Anda berinvestasi, maka sebaiknya Anda memilih perusahaan yang menghasilkan ROE tinggi, dan menghindari perusahaan dengan ROE rendah”. Jika Anda cenderung untuk berinvestasi hanya pada perusahaan yang memiliki ROE tinggi secara konsisten, maka perusahaan seperti ini niscaya akan menjaga masa depan Anda dengan lebih baik” .

Beberapa kali saya mengingatkan tentang kekuatan konsep magic of compunding, yang menggaris bawahi pentingnya besaran persentase hasil investasi kita. Sederhananya, untuk dapat mengetahui berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menjadikan dana kita meningkat dua kali lipat, kita bisa membagi angka ajaib, yaitu angka 72, dengan angka tingkat pertumbuhan. Jadi jika suku bunga deposito yang Anda terima 6%, maka dana Rp 1 Juta itu akan menjadi dua kali lipat, Rp 2 Juta, dalam waktu 12 tahun (72 dibagi 6). Dana itu kemudian menjadi Rp 4 Juta, dalam 12 tahun berikutnya. Jika ada perusahaan yang bisa menghasilkan ROE 24%, maka modal perusahaan itu bisa meningkat dua kali lipat, dari Rp 1 Juta menjadi Rp 2 Juta, hanya dalam waktu 3 tahun saja (72 dibagi 24). Karena modal yang tercatat di perusahaan itu mencerminkan kekayaan para pemegang saham, tentu akan lebih menguntungkan jika kita menjadi pemegang saham perusahaan yang dapat meningkatkan modalnya dalam waktu yang relatif lebih cepat dibandingkan perusahaan lain. Alias memiliki ROE yang tinggi. Berdasarkan Prinsip Investasi #1 di atas, Anda bisa lebih mengerti mengapa perusahaan seperti Bank Rakyat Indonesia yang ROE-nya secara konsisten tercatat diatas 24%, mampu menjaga masa depan para pemegang sahamnya sejak IPO 12 tahun lalu.





Di dalam kurun waktu 12 tahun, nilai kekayaan pemegang saham BRI (diluar hasil dividen) sudah meningkat 2,300%. Bandingkan dengan kenaikan IHSG yang “hanya” meningkat 690% di dalam kurun waktu yang sama. Tidak banyak perusahaan yang bisa menghasilkan ROE di atas 20% seperti BRI. Jika Anda menemukan perusahaan yang secara konsisten menghasilkan ROE di atas 20%, sebaiknya luangkan waktu Anda untuk mengkaji perusahaan itu lebih dalam lagi. Dalam jangka panjang, kemampuan perusahaan yang menghasilkan ROE tinggi bisa meningkatkan kekayaan para pemegang sahamnya. Nilai kekayaan ini pada gilirannya akan tercermin dalam kenaikan harga saham. Jika Anda hanya berkonsentrasi dan menjadi pemilik saham dari hanya 5-10 perusahaan semacam ini, Anda tidak perlu lagi membuang-buang waktu Anda untuk sibuk dengan informasi dan kebisingan pasar.

Prinsip Investasi #1 ini menurunkan prinsip lain, yang bisa kita sebut Prinsip Investasi #2 : “Apabila pasar atau Mr Market sedang gundah (yang membuat harga terkoreksi), maka gunakanlah kesempatan itu untuk mengumpulkan saham perusahaan yang memiliki ROE tinggi”. Mengapa? Karena apabila pasar sedang bersuka-cita, perusahaan ini hanya mungkin dimiliki dengan harga serta valuasi premium. Bearish market, yaitu terjadinya koreksi sistemik di pasar, ataupun problem temporer perusahaan tertentu, memberikan peluang bagi investor untuk memilih perusahaan berkinerja baik dengan harga diskon.

Mari kita lanjutkan cerita soal Skorbak ini. Dengan keuntungan tahun pertama Rp 150,000, modal Skorbak yang awalnya hanya Rp 1 Juta, sekarang meningkat menjadi Rp 1,150,000. Keuntungan Rp 150 Ribu ini masuk menjadi bagian dari Modal dalam Neraca perusahaan. Ahli
keuangan menggunakan terminologi Retained Earning/RE atau Laba Ditahan. Angka ini merupakan akumulasi keuntungan yang diperoleh perusahaan. Pembayaran dividen, jika ada, diambil dari RE sehingga akan mengurangi jumlah Retained Earning perusahaan.

NET BOOK VALUE (NILAI BUKU) PER-SAHAM

Meskipun modal Starbak di atas meningkat jadi Rp 1,150,000, namun jumlah lembaran sahamnya tetap 2,000 lembar, tidak ada perubahan. Dengan demikian, nilai (buku) saham yang tadinya Rp 500/lembar, kemudian berubah menjadi Rp 575 (1,150,000 dibagi 2,000). Ada
peningkatan nilai buku perusahaan sebesar 15%. Dalam terminologi keuangan, biasanya digunakan istilah Net Book Value, disingkat NBV per-share, atau Nilai Buku per-Saham.

Apa sih arti angka NBV/share, atau Nilai Buku per-saham ini? Untuk gampangnya, jika seluruh kekayaan perusahaan dijual serta seluruh hutang perusahaan dilunasi, maka jika masih ada yang tersisa, nilai sisa itulah yang akan menjadi milik pemegang saham. Jika sisa hasil perhitungan di atas kemudian dibagikan kepada seluruh pemegang saham, maka pembagian akan dilakukan berdasarkan jumlah saham yang dimiliki masing-masing pemegang saham. Nilai Buku per-saham (NBV/share) ini menunjukan angka yang diperoleh pemegang saham untuk setiap lembar saham yang dimilikinya.

Berdasarkan catatan di atas, kita bisa mengenal Prinsip Investasi #3: “Perusahaan-perusahaan yang NBV per-sahamnya secara konsisten menunjukan peningkatan, menjadi isyarat yang baik tentang potensi peningkatan kekayaan bagi para investor yang memilihnya”. Kembali dengan melihat contoh kasus BRI, kita mengetahui bahwa Nilai Buku BRI telah meningkat dari Rp 650/lembar pada tahun 2003 menjadi Rp 5,700/lembar sekarang ini, atau meningkat hampir 800%. Adanya konsistensi peningkatan Nilai Buku per-saham BRI ini yang menjadi salah-satu alasan kenaikan harga saham BRI sebesar 2,300% didalam kurun waktu 12 tahun. Peningkatan Nilai Buku per-saham Berkshire Hathaway secara konsisten (sekitar 800,000%) menjadi alasan kuat untuk terjadinya kenaikan harga saham Berskhire Hathaway sebesar 1,600,000% dalam kurun waktu 50 tahun terakhir. 16,000 kali!! Peningkatan Nilai Buku per-saham BRI menunjukan bahwa bank ini tidak saja bisa memberikan hasil yang baik dari setiap Rupiah modal perusahaan (ROE di atas 20%). Kenaikan Nilai Buku per-saham yang juga ditunjukkan BRI secara konsisten, menjadi alasan kuat bagi BRI dalam meningkatkan nilai kekayaan pemegang sahamnya. Meskipun nilai buku BRI hanya meningkat 800%, namun kekayaan pemegang saham BRI berhasil tumbuh dengan persentase lebih tinggi, 2,300%.

Oleh karenanya, lakukanlah investasi pada perusahaan-perusahaan dengan ROE tinggi dan pada saat bersamaan Nilai Buku/lembarnya juga menunjukan peningkatan secara konsisten. Tentu dengan syarat bahwa kita membelinya pada harga yang wajar.

HARGA SAHAM DI BAWAH NBV?
Sekarang ini, kita sudah memahami bahwa nilai buku/saham tidak lain mencerminkan nilai yang menjadi hak para pemilik perusahaan untuk setiap lembar saham yang dimilikinya. Pertanyaannya, jika Mr Market menawarkan harga saham yang lebih rendah dari nilai buku per-saham, apa yang seharusnya kita lakukan?.

Untuk menjawabnya, Prinsip Investasi #4 mungkin bisa digunakan : “Jika pasar menawarkan harga saham lebih rendah dari NBV/saham, maka Anda harus berhati-hati. Bisa jadi itu sebuah jebakan Batman (perusahaan sedang dililit hutang besar, yang jumlahnya jauh di luar kemampuan perusahaan). Namun bisa jadi, ketika Anda berhadapan dengan kondisi seperti itu, justru Anda sedang berhadapan dengan peluang yang mungkin akan memberi hasil investasi berlipat-ganda. Demikian jarangnya peluang itu, maka bukan mustahil jika hasil yang bisa Anda dapatkan juga bukan hanya 20-30%, tetapi ratusan persen. Untuk sebagian, apa yang ditawarkan Mr Market terkait INDY dan HRUM setahun lalu dapat menjadi contoh yang gamblang soal Prinsip Investasi #4 ini.

Mari kita kembali ke Skorbak.
5 tahun sudah berlalu sejak kedai kopi pertama dibuka. Sudah mulai banyak juga yang minta agar Skorbak dibuka di tempat lain. Dalam 5 tahun ini keuntungan semakin meningkat. Dari tahun pertama yang menghasilkan laba Rp 150,000, laba tahun ke 2, 3, 4 serta 5 tercatat peningkatan keuntungan, yaitu Rp 200, 250, 300 dan Rp 350 Ribu. Dengan keuntungan di atas, maka terjadilah akumulasi laba sebesar Rp 1,250,000 selama 5 tahun ini yang meningkatkan nilai modal.

Dari modal awal Rp 1 Juta, dengan adanya tambahan akumulasi laba, maka Modal saat ini meningkat menjadi Rp 2,250,000. Jumlah lembar saham tetap tidak berubah, hanya 2,000 lembar. Oleh sebab itu, maka NBV saat ini menjadi Rp 1,125/lembar (yaitu jumlah modal sebesar Rp 2,250,000 dibagi jumlah saham, 2,000 lembar). Dengan angka ini, didalam periode 5 tahun, NBV per-saham yang pada awalnya bernilai Rp 500 berhasil tumbuh 125%, menjadi Rp 1,125. Hasil yang tentu sangat menggembirakan para pemegang saham Skorbak.

Contoh kasus perusahaan terbuka

Skorbak go-public?
Menjawab permintaan langganan, karena ada kebutuhan dana untuk membuka outlet berikutnya, Skorbak kemudian memutuskan untuk go-public. Pada kesempatan lain, kita akan membahas secara lebih rinci dinamika perhitungan sebuah proses IPO. Sekarang ini, tujuan utama pembahasan adalah menggunakan urutan cerita Skorbak ini, untuk dapat memahami pedoman dasar perhitungan investasi.

Melalui IPO, maka kini tercatatlah saham Skorbak di bursa. Pada hari pertama perdagangan saham di bursa, Skorbak juga tidak lupa untuk membagikan martabak unggulannya secara gratis untuk para pelaku bursa. Saham Skorbak, sama seperti Starbucks, kini diperdagangkan setiap hari di bursa. Pelanggan Skorbak tentu tidak lagi hanya bisa membeli martabaknya, tetapi juga sahamnya. Jika Anda suka produknya, begitu kata Peter Lynch, maka besar kemungkinannya Anda juga akan menyukai saham perusahaannya. Baca juga artikel : Strategi Pemilihan Saham Peter Lynch

Saham Skorbak yang tadinya hanya berjumlah 2,000 lembar berubah menjadi 3,000 lembar. Ada tambahan 1,000 lembar saham baru yang dijual melalui IPO, dengan harga Rp 2,000 per-lembar. Melalui IPO ini, mereka yang berminat menjadi pemegang saham Skorbak, harus membayar setiap lembar saham dengan harga lebih mahal dibanding harga yang dibayarkan para pendiri Skorbak, yaitu Rp 500/lembar.

Harga IPO ini juga lebih tinggi dari nilai buku per-saham sebelum IPO (Rp 1,125/lembar). Kinerja baik Skorbak dalam kurun waktu 5 tahun ini diterjemahkan dalam kemampuan perusahaan untuk bisa menjual harga saham saat IPO, dengan harga premium, Rp 2,000. Dijualnya saham baru Skorbak sebanyak 1,000 lembar, dengan harga Rp 2,000/lembar, menghasilkan tambahan modal sebesar Rp 2 Juta. Apabila modal baru ini ditambahkan dengan modal yang sudah ada sebelum IPO (yaitu Rp 2,250,000), modal Skorbak berubah menjadi Rp 4,450,000. Dengan jumlah saham 3,000 lembar, maka setelah IPO nilai buku/lembar tercatat Rp 1,483 ( Rp 4,450,000 dibagi 3,000).

Jika melihat historis Skorbak, angka ROE yang bisa diperoleh adalah 15%. Atas data historis ini, maka kita bisa membuat perkiraan bahwa dengan modal sekarang ini sebesar Rp 4,450,000, Starbak akan bisa mencetak laba sekitar Rp 667,500. Laba ini, jika dibagi dengan 3,000 lembar saham, akan menghasilkan laba Rp 222.50/saham. Laba persaham ini lebih populer dengan singkatan bahasa Inggrisnya, yaitu EPS, singkatan dari Earning-Per-Share.
Baca juga artikel : Mengetahui Kualitas dari Profit yang dihasilkan

Dengan estimasi EPS sebesar Rp 222.50, dan harga saham pada saat IPO sebesar Rp 2,000, maka kita dapat menghitung bahwa harga IPO itu 9 kali (9X) dari perkiraan EPS-nya. Dalam terminologi investasi, angka 9X ini dikenal dengan Price Earning Ratio, dan sering disingkat dengan PER, atau PE Ratio. PER ini membandingkan investasi (harga saham) dengan laba per-saham (EPS). PER menggaris-bawahi 2 soal penting dalam investasi : harga yang dibayar dan bagian laba.

Angka PER, pada intinya, menunjukan jumlah tahun yang diperlukan investor untuk mendapatkan kembali investasi dari bagian laba yang menjadi haknya. Apabila kita bilang bahwa PER perusahaan adalah 9, artinya dibutuhkan waktu 9 tahun untuk bisa mengembalikan dana pokok investasi dari laba yang dihasilkan perusahaan. Dengan contoh di atas, apabila laba perusahaan adalah Rp 222.50, maka dibutuhkan laba selama 9 tahun, agar dana pokok investasi sebesar Rp 2,000 itu bisa kembali. Semakin rendah angka PER ini, semakin cepat potensi pengembalian sebuah investasi. Jika PE Ratio itu 4X, maka laba yang diperoleh dalam 4 tahun sudah sama besarnya dengan dana investasi (harga saham yang dibayar). Jika PER satu perusahaan menunjukkan angka 50X, maka dibutuhkan laba selama 50 tahun agar investasi kita bisa dikembalikan dari hasil usaha perusahaan.

Agar tidak tambah “gak mudeng”, saat ini kita pahami saja dulu dasar pemikiran bahwa semakin rendah PER, maka semakin menarik juga sahamnya. Perusahaan yang hanya membutuhkan 4 tahun laba untuk mengembalikan investasi awal, atau PER-nya 4X, tentu lebih menarik dibanding perusahaan dengan PER 50X. Namun demikian, saya perlu mengingatkan, pada kenyataannya kajian soal PER tidak sedemikian simple-nya (Saya sendiri jarang memakai PER sebagai satu-satunya parameter dalam mengkaji perusahaan. Lain kali kita akan bahas soal tersebut dengan lebih rinci).

Baca juga artikel lainnya : 





0 komentar:

Posting Komentar