Review Buku The Little Book of Behavioral Investing




Ini merupakan artikel pertama di website ini yang menampilkan tentang review buku yang pernah saya baca sebelumnya, mungkin selanjutnya akan lebih teratur dalam menampilkan review tentang buku sebulan sekali. Berbeda dengan buku mainstream dan klasik untuk para investor saham yang biasanya seperti Intelligent Investornya Benjamin Graham atau buku-buku yang dikarang oleh Peter Lynch saya lebih memilih buku yang dibuat oleh James Montier yang berjudul The Little Book of Behavioral Investing ini sebagai pembuka dalam review buku di website ini dan tentu saja dengan bahasa yang singkat karena bukunya sendiri terdiri dari 137 halaman dan sepertinya belum ada versi bahasa Indonesianya.


Buku ini merupakan salah satu dari sekian banyak seri buku The Little Book yang dibuat dengan tujuan lebih memahami dan mengambil keuntungan berinvestasi dari pasar saham. Seri buku ini sendiri lebih membahas tentang Behavioral Investing yang menurut saya pribadi merupakan hal yang penting ketika kita memutuskan berinvestasi di saham karena lebih membahas unsur psikologis dalam berinvestasi. James Montier sang pengarang merupakan seorang investor di pasar modal AS yang fokus di bidang Behavioral Investing dan saat ini menjadi co head Global Strategy pada GMO European Asset Allocation Team.




Baca juga artikel : Analisis Fundamental Saham
Terdapat 16 Bab dalam buku ini, beberapa hal penting yang dapat kita ambil dari buku ini mulai dari apa itu over optimism, overconfident, dan confirmatory bias. Dimulai dengan kalimat bahwa seorang investor haruslah menyiapkan 7 P : perfect planning and preparation prevent piss poor performance. Dimana disebutkan bahwa proses pengambilan keputusan yang terbaik sebaiknya diambil ketika emosi kita sedang stabil, rasional, dan tidak terjadi gejolak yang signifikan terjadi di pasar modal, serta komit terhadap analisis sendiri yang telah dibuat maupun action stepsnya. Seperti halnya kutipan yang dikatakan oleh Sir John Templeton bahwa waktu yang terbaik untuk membeli adalah ketika kondisi over pesimis dan waktu yang tepat untuk menjual adalah ketika kondisi pasar over optimis. 

Terdapat banyak contoh-contoh di dunia nyata yang disertakan di buku ini serta tes-tes kecil menanyakan tentang pemahaman kita tentang sesuatu dan apa hubungannya terhadap behavioral investing. Salah satunya adalah tentang informasi overload dimana makin banyak informasi yang digunakan dalam menganalisis justru membuat hasil analisis yang diperoleh menjadi kurang maksimal serta membutuhkan waktu yang lama, saat hasil analisis selesai justru situasinya sudah berubah lagi (tentunya kesimpulan ini diperoleh dari uji yang dilakukan oleh penulis). Sehingga disarankan untuk menggunakan informasi yang benar-benar anda ketahui dampaknya terhadap perusahaan (tentu saja ini tergolong debatable).



Psikolog sendiri telah menemukan bahwa confidence dan asimilasi bias menghasilkan suatu hal yang disebut dengan strange tango. Dimana makin yakin seseorang bahwa sudut pandangnya benar, makin terdistorsi mereka dengan hal-hal yang mendukung preferensi tersebut yang akhirnya membuat makin confidentlah mereka. Hal lain tentang bias adalah self attribution bias dimana menjadi kebiasaan seseorang apabila hasil investasi kita bagus maka skill kita sebagai investorlah yang bagus namun apabila hasilnya buruk maka orang lainlah yang salah (entah karena memberikan rekomendasilah, dsb). Untuk mencegah terulang bias seperti ini maka disarankan untuk membuat semacam investor diary yang berisi tentang alasan mengapa kita membeli suatu saham pada suatu perusahaan tertentu sehingga apapun hasilnya dapat dijadikan sebagai bahan pembelajaran untuk proses keputusan selanjutnya.  




Kesimpulannya sendiri adalah dalam mengambil keputusan investasi kita harus konsentrasi dalam prosesnya. Beberapa investor terkenal yang disebutkan dalam buku ini seperti Sir John Templeton memiliki pengukuran yang terintegrasi dalam mengambil pendekatan investasinya yang digunakan sebagai buffer terhadap keputusan investasi yang tidak berdasar. 

Komentar