Menjadi Kaya dengan Membeli Saham Dividen, Mungkinkah?

Sinopsis dari buku Get Rich by Dividens


Menjadi kaya dengan mengandalkan dividen saham mungkin terkesan sangat “berlebihan” dan menjual mimpi. Namun hal ini ternyata sudah banyak diterapkan di luar negeri sana dalam hal menentukan bagaimana portofolio saham yang baik. Hal ini juga yang dibahas dalam buku “Get Rich with Dividens” yang dikarang oleh Marc Lichtenfeld. Marc Lichtenfeld sendiri merupakan seorang Chief Income Strategist for The Oxfod Club and Wealthy Retirement, dan juga Pendiri dan Editor Senior The Oxford Income Letter. Ia memulai karir investasinya sebagai trading desk di Carlin Equities di San Fransisco, California. Di Weiss Research ia menjadi co managed The Real Wealth Portfolio dan mengalahkan kinerja S&P 500 sebanyak 17% dalam periode 6 bulan. Sepanjang karirinya Marc berhasil mengalahkan kinerja S&P 500 dan S&P Healthcare Index dengan margin yang besar.

Sebelum melangkah lebih jauh maka dipahami dulu apa itu pengertian saham dan apa itu dividen saham serta mengapa dividen itu penting. Di bukunya tersebut Marc menerapkan sistem yang disebut dengan sistem 10-11-12 yang artinya adalah dalam waktu 10 tahun akan menghasilkan yield sebesar 11% dan total return secara rata-rata tahunan sebesar 12% per tahun. Tiga hal yang perlu diperhatikan ketika menerapkan sistem ini adalah :
  • Seberapa besar yield yang dihasilkan ?
  • Berapa persen tingkat pertumbuhan dividennya
  • Berapa Payout Ratio yang dihasilkan dalam pembagian deviden 



Yield
Dalam hal dividen yield (perbandingan antara dividen saham per lember saham dengan harga saham per lembar) Marc memilih untuk membeli saham dengan yield minimal 4% (lebih direkomendasikan yield sebesar minimal 4,7%).

Membeli saham dengan yield sebesar 10% juga dianggap tidak menarik apabila perusahaan tersebut pertumbuhannya kurang baik atau tidak stabil. Saham dengan yiled tergolong rendah akan menarik apabila kita lebih tertarik dengan pertumbuhan modal atau capital gain dibandingkan saham sebagai income.

Namun tentu saja semua investor berharap harga saham yang dibelinya akan meningkat namun kembali lagi kepada prioritas investor tersebut apakah income atau capital gain (dan disini yang kita bahas adalah saham sebagai income :D)

Pertumbuhan Dividen
Pasar modal adalah intinya tentang pertumbuhan. Seorang investor saham membeli saham suatu perusahaan yang diharapkan kinerja laba dan cash flownya bertumbuh. Seorang income investor menginginkan dividen yang dibagikan oleh perusahaan kepada investor bertumbuh.

Kunci dalam penerapan sistem 10-11-12 ini adalah pertumbuhan dividen yang konsisten karena tanpa adanya pertumbuhan maka nilai dividen yang ditawarkan menjadi kalah dengan inflasi sehingga dianggap proses investasi tersebut gagal. Di Indonesia sendiri inflasi saat ini sudah bisa dikatakan berada di kisaran yang stabil dibawah 5% per tahunnya namun masih dapat dikatakan tergolong standar jika dibandingkan dengan Negara berkembang lainnya.

Marc merekomendasikan tingkat pertumbuhan dividen sebesar 10% tiap tahunnya, di Indonesia sendiri emiten membagikan dividennya tergantung dengan jumlah laba yang dihasikan kemudian ditentukan melalui RUPS. Tingkat pertumbuhan laba perusahaan di Indonesia sendiri tergantung terhadap situasi ekonomi secara umum atau kondisi makro. 

Payout Ratio
Hal yang terakhir adalah payout ratio dimana perusahaan yang dipilih adalah perusahaan dengan dividen payout rationya (rasio antara dividen yang dibagikan dengan total laba yang dihasilkan dalam satu periode) tidak lebih besar dari 75% sehingga perusahaan tersebut masih memiliki sisa laba yang dapat dipergunakan sebagai “pengaman”. Hal yang perlu diperhatikan dalam menerapkan sistem ini adalah dengan selalu memperhatikan perusahaan apabila terjadi peningkatanyan payout ratio, penurunan dalam hal kinerja perusahaan (cash flow, pendapatan, laba rugi), serta perubahan dalam kebijakan dividen.

Asumsi-Asumsi
Asumsi yang digunakan dalam menerapkan sistem ini pertama tentu saja sistem ini dicoba dilakukan di pasar modal Amerika Serikat yang kinerja rata-ratanya selama 10 tahun terakhir dikisaran 7.48% per tahun dan konsisten. Adanya asumsi disini karena memang tidak ada hal yang pasti dalam dunia saham. Market cenderung bergerak ke arah yang tidak ada satupun investor yang pasti menebak dengan benar.

Kecenderungan ini bisa diminimalisir dengan adanya beberapa panduan seperti jika kita membeli saham yang berada dibawah historical average rasio PERnya maka kecenderungannya harga saham tersebut akan kembali ke posisi semula (apabila memang tidak ada kondisi fundamental perusahaan yang berubah). Baca juga artikel tentang : Analisis Fundamental Saham

Asumsi lainnya adalah kinerja perusahaan dan harga sahamnya cenderung konsisten (hal yang tidak mungkin terjadi di dunia nyata karena selalu ada yang namanya crash atau krisis). Penggunaan asumsi ini memang bertujuan agar dapat dilakukan perhitungan yang kondisional sehingga diperoleh 11% yield dalam waktu 10 tahun dengan return rata-rata sebesar 12% per tahun yang sudah pasti mengalahkan inflasi. Perhitungan yang lebih jelas dapat dilihat di bukunya.

Hal yang menarik dibahas pada buku ini adalah tentang buyback vs dividen yang mungkin akan dibahas pada artikel selanjutnya. Happy Income Investing. 


Komentar