Kapan saat yang tepat untuk menjual suatu saham

Saat untuk menjual saham
Salah satu hal yang mungkin akan menyulitkan selain kapan saat membeli saham adalah kapan saat yang tepat untuk menjualnya. Seorang trader ataupun investor yang memiliki time frame yang berbeda dalam berinvestasi tentu akan memiliki pandangan yang berbeda dalam menentukan kapan saat yang tepat untuk menjual suatu saham. Secara garis besar ketika memutuskan untuk membeli suatu saham maka entah itu trader/investor harusnya sudah memiliki planning awal mulai dari why membeli saham tersebut serta target price yang diinginkan. Berikut dijelaskan 3 alasan yang tepat yang dapat dijadikan panduan dalam memutuskan menjual suatu saham yang dirangkum dari investopedia.

Alasan mengapa susah dalam menjual sesuatu dikatakan berasal dari sifat manusia yang pada dasarnya greedy (ini kata investopedia lho :D). Sebagai contoh, seorang investor membeli suatu saham di harga Rp 2.500,00 per lembarnya dan diawal ia merencanakan akan menjual sahamnya apabila sudah menyentuh harga Rp 3.000,00 per lembarnya. Yang terjadi selanjutnya mungkin pernah dirasakan oleh trader-trader pemula biasanya, ketika saham tersebut sudah menyentuh harga Rp 3.000,00 trader tersebut memutuskan hold (menunggu) dengan harapan akan naik beberapa poin lagi. Saham tersebut kemudian naik menjadi Rp 3.200,00 dan sifat greedy pun muncul, trader tadi pun menunggu lagi dengan harapan harga sahamnya akan naik lebih tinggi lagi. Kemudian tiba-tiba harga saham tadi turun ke Rp 2.900,00, trader tadi pun menunggu lagi dengan harapan harga saham akan kembali ke harga RP 3.000,00 namun kenyataannya tidak sesuai dengan harapan, malah harga saham tadi turun lagi ke harga Rp 2.300,00 dibawah harga beli trader pemula tadi. 

Hasilnya trader tadi memutuskan menjual di harga Rp 2.300,00 dan rugi Rp 200,00 per lembar sahamnya dimana kerugian yang sebenarnya adalah Rp 900,00 karena trader tadi memiliki peluang untuk menjualnya di harga Rp 3.200,00 namun memilih untuk hold.

Mengetahui kapan saat yang tepat untuk menjual merupakan hal yang sangat penting dalam berinvestasi saham. Dari contoh diatas penjualan yang tepat mengurangi potensi dari 2 kejadian yang berbeda. Pertama adalah memastikan gain atau keuntungan yang diinginkan terjaga. Kedua penjualan yang tepat memastikan peluang terjadinya kerugian menjadi berkurang.

Seorang investor ataupun trader haruslah memahami bahwa menjual suatu saham tidak lah bisa precise dalam timingnya. Sangatlah sulit menemukan seorang investor ataupun trader yang dapat membeli di harga yang absolut terendah dan menjualnya di posisi absolut tertinggi. Investor yang sukses seperti Warren Buffett, Peter Lynch dan lainnya tidak sukses dengan cara membeli saham diposisinya yang paling rendah dan menjualnya di posisi yang paling tinggi. Mereka sukses dengan cara fokus membeli disuatu harga dan menjualnya diharga yang lebih tinggi dibandingkan harga belinya, itu saja simple dan sederhana kan kelihatannya :D

3 alasan yang tepat untuk menjual saham adalah :

1. Kesalahan dalam melakukan analisis
Jika dalam membeli saham, anda kemudian menyadari bahwa terdapat kesalahan dalam menganalisis – kesalahan yang secara fundamental akan mempengaruhi bisnis perusahaan tersebut- maka sudah seharusnya anda menjual saham tersebut, meskipun yang terjadi nantinya adalah kerugian. Kunci dalam melakukan investasi yang tepat adalah memiliki pendirian yang teguh terhadap analisis dan data yang sudah dilakukan dan tidak terpengaruh oleh Mr.Market atau kondisi pasar yang memiliki mood yang berubah ubah. Tentu saja bisa jadi ketika anda memutuskan untuk menjual bisa saja harga saham tersebut malah naik, dan anda pun mulai mempertanyakan hasil analisis anda sendiri (yes everyone pasti pernah mengalaminya) but kunci suksesnya adalah learn from mistakes bukan, experience is the best teacher :D. Belajar dari kesalahan yang menyebabkan anda rugi 10% bisa jadi merupakan investasi yang terbaik. Selama anda belajar dari kesalahan tersebut dan lanjut lagi untuk membuat analisis yang lebih baik dalam investasi berikutnya.

Contoh yang pernah saya lakukan adalah ketika memutuskan membeli terlalu dini saham salah satu grup terkenal di Indonesia dengan hasil analisis yang menunjukkan memang perusahaan tersebut dalam kondisi undervalued. Namun yang belum saya teliti lebih dalam adalah karakter dari grup tersebut yang ternyata di masa mendatang akan memerlukan dana yang super masif dalam membangun mega proyeknya. Biasanya ketika suatu emiten memerlukan dana yang super maka dilakukanlah rights issue (Baca juga tentang Rights Issue serta dampaknya terhadap harga saham), otomatis harga saham tersebut malah makin turun dalam dan terpaksa melakukan cut loss mengingat dana yang saya pakai adalah dana untuk trading (jangka pendek). It sucks but it was the best experienced untuk menganalisis semuanya lebih lengkap lagi (kalau bahasa kerennya menganalisis secara holistik :D).

Tentu saja tidak semua kesalahan analisis dijadikan alasan untuk langsung menjual saham tersebut. Contohnya apabila hasil laporan keuangan kuartal suatu emiten ternyata tidak sesuai dengan konsensus (misal ternyata 98% dari konsensus) dan harganya turun setelah pengumuman laporan keuangan tersebut, maka itu tidak dapat dijadikan alasan untuk menjual saham emiten tersebut apabila memang kondisi bisnisnya memang masih baik-baik saja. Akan lain misalnya apabila bisnis perusahaan tersebut market sharenya atau pangsa pasarnya mulai menunjukkan trend penurunan serta adanya persaingan usaha yang makin ketat sehingga mulai menggerus laba perusahaan tersebut atau misalnya perusahaan tersebut tidak mengikuti perkembangan jaman dalam hal pengembangan produk barang atau jasanya (seperti yang kita tahu sekarang eranya teknologi yang cepat lihat apa yang terjadi dengan transportasi konvensional vs transportasi online).  

2. Kenaikan harga yang tiba-tiba dan drastis
Sangatlah memungkinkan ketika kita membeli suatu saham harganya tiba-tiba naik drastis dalam suatu periode. Investor yang baik adalah investor yang humble. Cara menghasilkan uang di pasar modal intinya adalah membeli saham di harga yang murah. Namun saham yang murah bisa jadi akan menjadi tiba-tiba mahal karena beberapa alasan, salah satunya adalah adanya unsur spekulasi (Bandar tiba-tiba masuk atau isu yang tiba-tiba muncul namun kebenarannya belum pasti). Apabila ini terjadi dan anda sudah mendapatkan gain sesuai dengan target maka realisasikan dan move on :D

3. Valuasi harganya tidak dapat dijustifikasi lagi di harga yang sekarang
Hal ini merupakan salah satu cara yag paling sulit mengingat “menilai” suatu perusahaan sebagian merupakan seni dan sains. Nilai suatu saham merupakan present value dari cash flow perusahaan di masa depan (hal ini mungkin perlu penjelasan yang lebih detail di artikel lain). Valuasi akan tidak presisi mengingat yang namanya masa depan siapa sih yang bisa menebak dengan tepat ? :D , Oleh karena itu terdapat istilah margin of safety dalam berinvestasi.

Contohnya yang secara sederhana adalah menjual ketika valuasi perusahaan tersebut secara signifikan harganya terlalu mahal dibandingkan perusahaan lain yang sejenis. Tentu saja terdapat beberapa hal yang tidaklah absolut, misalnya di Indonesia untuk perusahaan consumer good UNVR merupakan the best namun secara valuasi bisa dikatakan sangat mahal dengan PER mencapai 59.57 dan PBV yang mencapai 64.67 !!(sumber Data Pasar Kontan Harian Edisi tanggal 20 Januari 2018),  namun mengapa perusahaan ini naik terus dan terlihat fine-fine saja bukan?. 

Grafik Harga Saham Unilever

Salah satu cara yang saya gunakan selama ini adalah menjual ketika rasio PER nya sekarang lebih tinggi lebih tinggi dibandingkan rata-rata PERnya secara historikal dalam 5 tahun kebelakang misalnya.

Cara lain misalnya ketika pendapatan perusahaan terus menunjukkan trend penurunan. Lihat secara garis besar karena yang namanya siklus sektor berpengaruh lihat apa yang terjadi dengan sektor property dan sektor tambang batu bara ketika memang lagi down. Atau sektor perbankan ketika terjadi kebijakan suku bunga tinggi jadi lihat dulu kondisi gambaran besarnya.  

Kesimpulan
Setiap keputusan untuk menjual saham yang menghasilkan keuntungan merupakan penjualan yang baik asalkan ada alasan yang tepat dibalik penjualan tersebut. Saat anda menjual namun loss atau rugi tapi disertai dengan alasan yang masuk akal itu juga dapat dikatakan sebagai penjualan yang tepat. Menjual suatu saham dikatakan buruk apabila didasari oleh faktor emosi saja bukan atas dasar data dan analisis. Selamat berinvestasi dan silakan masukkan komentar atau pengalaman anda selama ini dalam menjual suatu saham :D .

Baca juga artikel lainnya :

Komentar