4 Rasio yang Digunakan Untuk Mengetahui Nilai Wajar Harga Saham

4 Rasio yang digunakan untuk mengetahui valuasi harga saham

Dalam melakukan valuasi suatu saham atau analisis fundamental saham terdapat 4 rasio yang sering dijadikan patokan dalam menilai apakah harga suatu saham mahal atau murah. Rasio tersebut adalah sebagai berikut :

Price to Book Value (PBV)
Dalam analisis fundamental melihat rasio PBV merupakan suatu hal yang wajib sifatnya. Rasio PBV menunjukkan nilai buku perusahaan tersebut yang dibandingkan dengan harga sahamnya saat ini. Dari segi akuntansi secara sederhana nilai buku suatu perusahaan akan berubah-ubah apabila terdapat kenaikan pada aset. Pada perusahaan yang berada di sektor manufaktur tentu saja penekanan asetnya akan berbeda dengan perusahaan sektor perbankan misalnya. Pada perusahaan manufaktur akan terdapat nilai yang lebih besar pada aset tetap dibandingkan dengan perbankan. Baca artikel berikut untuk lebih memahami apa itu nilai buku : Nilai Buku atau Nilai Pasar

Berapakah nilai rasio wajar dari PBV untuk menyimpukan bahwa harga suatu saham murah?

Secara hitungan tentu saja apabila nilai PBV berada dibawah 1 maka harga saham perusahaan tersebut dibawah nilai bukunya namun akan lebih baik apabila kita mencari tahu lebih dalam lagi mengapa hal tersebut bisa terjadi, karena belum tentu saham itu murah bisa saja “murahan”. Belum tentu juga apabila PBV berada di angka 2 keatas maka saham tersebut tergolong sangat mahal. Balik lagi ke “why nya”. Biasanya saham-saham perusahaan yang kinerja keuangannya baik, pasar akan lebih menghargainya diatas nilai bukunya misal saham BBRI (Bank Rakyat Indonesia) atau UNVR (Unilever). Adalah penting memahami bahwa tidak ada hal yang absolut di pasar modal. Artinya ketekunan kita untuk lebih membaca lebih dalam lagi kinerja keuangan suatu perusahaan yang akan memberikan hasil maksimal dibandingkan hanya berpatokan kepada 1 jenis rasio keuangan saja.

Price to Earning Ratio (PER)
Rasio ini paling sering dijadikan ulasan apabila ingin mengetahui apakah saham tersebut mahal atau murah. PER yang dikatakan “ideal” biasanya adalah dibawah 15, namun tidak mutlak ada baiknya kita juga membandingkannya dengan perusahaan yang berbeda pada sektor yang sama. Misal untuk saat ini PER di sektor perbankan paling mahal adalah NOBU dengan PER yang mencapai 128.57 (sumber Data Pasar Kontan 3 Februari 2018) dan terkecil adalah BBKP yang memiliki PER di 6.65 (penyebutan nama emiten disini bukan berarti merekomendasikan :D, btw saya sendiri tidak memiliki saham BBKP dan ingat saham ini sedang merencanakan akan melakukan rights issue). Baca juga artikel berikut : Rights Issue dan dampaknya terhadap harga saham. Apabila kita bandingkan dengan sektor pakan ternak misalnya maka PER berada di kisaran 15.56 – 357.5 !. Sangat jauh bukan beda antara perbankan dan pakan ternak sehingga tidaklah valid menyatakan suatu angka PER dibawah angka tertentu sebagai pegangan. Suatu hal yang diterima pandangannya secara umum adalah IHSG sebagai PER patokan, jadi apabila saham anda diatas PER IHSG maka bisa jadi anda membeli saham yang tergolong “mahal”. Pembahasan tentang PER akan lebih baik dan jelas apabila dibahas pada artikel lain yang lebih mendalam. By the way rumus untuk mencari PER adalah harga saham per lembar dibandingkan dengan earning per share, sudah ada banyak website yang langsung menyediakan rasio PER secara langsung.
Rasio untuk mengetahui valuasi suatu saham perusahaan

Price to Earning Growth (PEG)
Rasio ini muncul karena rasio PER saja dianggap belumlah cukup untuk mengetahui apakah harga saham perusahaan tersebut wajar (murah atau mahal). Rasio ini melihat tingkat pertumbuhan secara historikal dari laba yang dihasilkan perusahaan tersebut. Makin rendah rasio PEG makin layak suatu saham untuk dibeli, namun ingat untuk memperhatikan apakah earning yang dihasilkan ber”kualitas” atau tidak. Baca juga artikel terkait : Mengetahui kualitas laba dari suatu perusahaan.

Dengan membandingkan nilai PEG suatu saham missal terdapat saham dengan PEG bernilai 1 artinya anda break even jika pertumbuhan laba perusahaan tersebut selanjutnya sama dengan masa lalu. Namun ada kelemahan dalam rasio ini dimana kinerja masa lalu belum tentu akan sama dengan kinerja masa depan. Tapi akan lebih baik memiliki analisis dibandingkan hanya sekedar membeli suatu saham kan? :D. PEG sendiri sudah banyak yang menggunakan dan salah satu yang terkenal adalah Peter Lynch.  

Dividend Yield
Rasio selanjutnya adalah dividen yield yang merupakan hasil perbandingan antara dividen yang diberikan per lembar saham dengan harga saham tersebut. Anggap saja dividen yield ini seperti halnya “bunga” yang anda dapatkan ketika membeli saham. Terdapat strategi saham yang juga mengandalkan dividen yield ini yang anda bisa baca diartikel ini : Menjadi Kaya dengan Membeli Saham Dividen. Idealnya makin tinggi dividen yield maka makin menarik saham tersebut namun perhatikan juga apakah perusahaan tersebut rajin membagikan secara rutin setiap tahun atau tidak? serta fluktuasi pembagiannya apakah tiba-tiba meningkat kemudian hilang begitu saja alias tidak membagikan dividen?. Biasanya saham-saham perusahaan yang tergolong BUMN dan BUMD rajin membagikan dividen karena dividen tersebut dijadikan sebagai salah satu sumber penerimaan Negara atau pendapatan asli daerah yang penting.  

Kesimpulan
4 rasio ini masing-masing memiliki kelebihan dan kelemahannya, menggunakannya akan lebih baik apabila mengkombinasikannya sesuai dengan rencana awal investasi atau trading kita. 4 rasio yang digunakan untuk menilai suatu saham tadi bisa dikatakan paling dasar dan paling sering dijadikan patokan awal dalam menilai murah atau mahalnya harga suatu saham pada analisis fundamental saham. Ada pertanyaan ataupun sharing silakan diberikan pada kolom komentar :D.

Baca juga artikel lainnya :


Komentar