8 Aturan dalam memulai investasi saham dividen

Saham deviden

Berinvestasi di saham selain menarik karena menghasilkan tingkat return atau tingkat pengembalian yang tertinggi dibandingkan jenis investasi lainnya juga menawarkan berbagai macam jenis strategi yang dapat disesuaikan dengan karakter kita. Salah satu strategi yang ada adalah strategi saham dividen dimana secara sederhananya strategi ini dilakukan dengan membeli saham yang memberikan dividen yield tinggi dibandingkan dengan saham lainnya. Baca artikel menarik terkait Mengapa berinvestasi di saham

Hal yang diinginkan dengan penerapan strategi ini adalah apapun kondisi ekonomi yang sedang terjadi kita tetap dapat menikmati hasilnya. 8 aturan dalam berinvestasi saham dividen ini diambil sumbernya dari website suredividend dan investopedia dengan beebrapa perubahan sebagai berikut :

Aturan pertama adalah Aturan Kualitas
Pilihlah saham yang memiliki kualitas bisnis yang tinggi yang sudah terbukti dalam jangka panjang (kestabilannya, pertumbuhannya dan keuntungannya). Terdapat lebih dari 500 perusahaan di Bursa Efek Indonesia yang dapat kita pilih perusahaannya, salah satu cara mudah dalam melakukan penyaringan adalah dengan cara memperhatikan produk atau jasa yang perusahaan tawarkan apakah tergolong produk atau jasa yang berkualitas dan sudah terbukti baik di mata masyarakat.

Aturan kedua adalah aturan tawar menawar
Aturan ini lebih menekankan belilah saham yang memberikan dividen yield yang tinggi (untuk lebih memahami apa itu dividen yiled silakan baca artikel Dividen). Dividen yield bisa dikatakan sebagai “bunga deposito” yang akan kita terima karena menempatkan sejumlah dana di suatu saham. Terdapat banyak saham yang sangat rajin membagikan dividen yang tergolong besar dividen yieldnya tiap tahun diantaranya BJTM, TOTL dan ADMF dimana ketiganya saat ini sedang saya koleksi juga di portfolio jangka panjang saya (disclaimer on :D )  
Hal yang dapat dijadikan sebagai panduan adalah belilah saham yang secara historikal nilai PERnya sedang berada dibawah nilai rata-rata.

Aturan yang ketiga adalah aturan keamanan
Dalam aturan ini yang perlu diperhatikan adalah apa yang dilakukan perusahaan tersebut apabila terjadi kelebihan dana kas. Jika suatu perusahaan membayar semua laba yang diperoleh untuk dijadikan dividen maka dapat dikatakan tidak terdapat “margin of safety”. Perusahaan yang membeli kembali sahamnya atau melakukan buyback bisa dikatakan sebagai sinyal bahwa harga saham perusahaan tersebut tergolong undervalued  atau paling tidak di harga yang sewajarnya (tentu saja lagi-lagi hal ini tidaklah absolut atau pasti). Hal yang pasti adalah belilah saham dengan dividen payout ratio yang tidak lebih dari 80% laba yang dihasilkan.

Aturan yang ke empat adalah aturan tentang pertumbuhan
Hal ini mungkin mirip dengan aturan yang pertama dimana kita mencari perusahaan yang produk atau jasanya berkualitas. Hal yang dapat dijadikan patokan untuk mengetahui apakah perusahaan itu berkualitas tentu saja tingkat pertumbuhan laba perusahaan yang terus meningkat. Salah satu hal yang paling mudah dengan cara melihatnya pada angka EPS (Earning per Share) yang meningkat tiap tahun.
Saham Deviden

Aturan yang ke 5 adalah aturan tentang pilihlah saham yang bisa membuat anda tidur nyenyak (mungkin ini terjemahan dari peace of mind yang tepat :D)
Ada beberapa kategori saham salah satunya adalah saham defensif dimana saham ini bisa dikatakan tidak terlalu turun harganya ketika krisis dibandingkan dengan saham lainnya. Saham-saham perusahaan yang bergerak di bidang consumer goods (menjual barang-barang keperluan sehari-hari) bisa digolongkan sebagai saham defensif. Keuntungan memiliki saham ini adalah di jangka panjang harganya relatif stabil sehingga saking stabilnya kadang pertumbuhannya tidaklah terlalu hebat atau mungkin saham ini akan jarang muncul dalam list TOP 10 highest return dalam setahun.

Aturan ke 6 tentang aturan overpriced
Aturan ini mungkin sudah sering dibahas tentang valuasi wajar suatu saham. Misalnya jika ada sseorang yang memberikan anda sejumlah uang Rp 1 juta untuk barang yang sebenernya berharga Rp 500 ribu, anda tentu memilih untuk mengambil uang tersebut daripada tetap memegang barang seharga Rp 500 ribu tersebut. Hal ini berlaku di saham, apabila harag suatu saham jauh melampaui harga sebenarnya maka langkah yang sebaiknya dilakukan adalah menjual dan memilih menginvestasikan uang anda ke saham yang memberikan hasil lebih baik (dalam hal ini dividen). Cara mengetahui apabila suatu saham “kemahalan” adalah apabila PERnya melebihi PER IHSG (itu prinsip yang selama ini saya lakukan). Mungkin ada pendapat lain silakan isi di kolom komentar :D

Aturan ke 7 adalah The Survival of the Fittest Rule (oke mungkin seleksi alam lebih tepat dalam penerjemahan aturan ini :D)
Terkadang yang namanya bisnis pasti ada masa-masa naik turunnya. Begitu juga dengan perusahaan dan rasio pembagian dividennya yang bisa jadi tidak akan selamanya naik terus tiap tahun. Apabila perusahaan tersebut mengurangi dividennya maka anda bisa memulai mencari tahu lebih dalam mengapa itu bisa terjadi. Apakah perusahaan tersebut produk atau jasanya penjualannya mengalami penurunan? Apakah terdapat pesaing yang lebih baik kualitasnya? Atau yang sedang trend saat ini dimana perusahaan konvensional melawan perusahaan yang berbasiskan teknologi. Atau bisa saja karena memang terjadinya trend menurun karena siklus harga komoditas (seperti apa yang terjadi dengan harga batubara di tahun 2015).

Aturan ke 8 adalah diversifikasi yang artikelnya dapat dibaca di Pentingnya melakukan diversifikasi dalam saham.
Hal yang baru yang saya juga dapatkan dan ingin saya share di artikel ini adalah ternyata menurut penelitian Frank Reily dan Keith Brown dalam bukunya berjudul Investment Analysis and Portfolio Management disebutkan bahwa 90% keuntungan dari melakukan diversifikasi didapatkan hanya dengan memiliki 12 hingga 18 saham dalam satu portofolio.
Kesimpulan
Strategi mengumpulkan saham dividen memang belum menjadi trend di Indonesia saat ini karena lebih banyak investor saham yang mementingkan capital gain dibandingkan dividen. Strategi dividen bisa kita coba apabila menginginkan hasil yang stabil tiap tahunnya tanpa khawatir dengan fluktuasi ekonomi yang ekstrim.
Baca juga artikel lainnya :

Komentar